Dua Kisah Sehari

Suatu ketika, dipagi hari, saya terbangun mendengar suara pesan whatsapp dari salah satu teman dan juga saudara saya. Saya ingat kira-kira jam 4 dini hari. Mata saya masih setengah terbuka, tapi saya tekan notifikasi pesan. Saya baca tapi diantara paham dan tidak. Cerita dari saudara saya yang cukup panjang. Karena saya masih mengantuk, saya masih mengabaikan ceritanya-tidak membalas, hanya membaca. Tapi, missed call mengagetkan saya. Lalu saya tersadar bahwa cerita yang panjang tersebut sangatlah penting. Tidaklah bijak jika saya informasikan apa berita tersebut. Intinya berita tersebut terkait persoalan hidup semua manusia terkhusus yang sedang menjalani bahtera rumah tangga.

Lalu, saya barulah menanggapi dengan sepenuh hati dan empati yang saya punya. Rasa kantukpun hilang begitu saja. Setelah sholat shubuh, saya lanjutkan lagi percakapan tidak biasa tersebut lewat pesan whatsapp. Saya berdoa untuk segala kebaikan bagi saudara saya tersebut. Ah, hidup, memang banyak sekali kejutannya. Baik yang kita suka atau kurang kita sukai.

Hanya berganti jam, disiang hari, sahabat saya yang lain juga bercerita tentang beberapa hal yang akhir-akhir ini menimpa hidupnya. Sayapun berusaha menjadi pendengar yang baik. Saya beri komentar sebisanya meskipun saya yakin seyakin yakinnya sahabat saya tersebut tidak memerlukan nasihat apapun dari saya, dia hanya butuh untuk didengar saja. Titik.

Jadilah saya menjadi seorang “psikolog amatir” yang hanya bisa manggut-manggut dan menjadi pendengar terbaik versi saya dan mereka pada hari itu. Saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka selain berdoa. Hanya saya meyakinkan mereka untuk tetap semangat dan menjalani hidup seperti sedia kala.

Apa kalian tahu? pada hari yang bersamaanpun, sebetulnya saya sedang berjuang untuk hidup saya untuk mengatasi beberapa tantangan yang ada. Saya sering merenungkan hari-hari itu, tiga orang yang sedang berjuang dengan kehidupannya masing-masing, termasuk saya. Saya belum sempat cerita ke mereka pada hari itu apa yang terjadi dengan saya, karena saya fikir, menjadi pendengar yang baikpun setidaknya bisa membantu mereka, dan membantu saya sendiri sejenak tidak memikirkan tantangan hidup yang sedang saya alami. Dan sepertinya masalah saya menjadi tidak seberapa dan mengecil.

Lalu apa hikmahnya dari hari yang “luar biasa” tersebut? saya tidak akan “sok” mengajari kalian. Tapi, paling tidak bagi saya, hari tersebut mengingatkan saya bahwa hidup itu setiap saat adalah perjuangan bagi tiap orang. Perjuangan untuk mengatasi  “masalah” atau berusaha mencoba menjalani tantangan hidup. Berjuang untuk sesuatu yang kita yakini benar. Berjuang untuk selalu berbuat baik bagi diri sendiri dan orang lain. Berjuang untuk mempertahankan sesuatu, atau melepas sesuatu. Semuanya berjuang. Tidak menjadi jahat pun berjuang. Artinya, menjadi baik itu melalui banyak proses. Mungkin ada yang tidak asing dengan pernyataan bahwa- kira-kira seperti ini- “dalam diri tiap manusia, itu ada pertarungan antara srigala yang jahat dan baik. Siapa yang akan menang? Yang menang adalah srigala yang sering kita kasih makan. Kalau kita kasih makan srigala yang baik- yaitu dengan kebaikan dan kebajikan tiap hari, ya dialah lah menang. Dan sebaliknya”.

Artinya bahwa, tiap saat kita berpotensi melakukan dua hal tersebut, memberi makan ke dua srigala tersebut di diri kita.  Maka, semestinya, jika kita berpegangteguh pada kebaikan, niscaya, srigala yang baiklah yang menang. Apakah sulit? ya, kalo tidak terbiasa memberi makan ke otak kita dengan yang baik-baik. Srigala jahatlah yang akan menang. Apakah sulit memberi makan srigala yang baik? ya harus berjuang, diperjuangkan. Kapan? setiap saat. Frase “setiap saat” ini berarti bahwa dikondisi apapun, setiap saat kita hendaknya tetap positif, tetap baik, tetap berjuang untuk tetap baik. Kenapa? karena dikondisi kita yang mungkin sedang banyak dilanda “masalah”, akan dengan mudah kita memberi makan otak kita hal-hal yang negatif, memberi makan ke srigala yang negatif. Disitulah pertarungan setiap individu, setiap kita. Kapan? ya setiap hari.

Dua sahabat saya itu orang-orang yang baik, bukan berarti tanpa masalah. Setiap orang punya masalahnya sendiri-sendiri. Hanya bedanya bagaimana setiap kita menyikapinya. Bahkan, bagaimana si pendengar menyikapinya juga. Bagaimana mengambil hikmah dari apa yang didengar, dan bagaimana belajar merespon dengan baik, tanpa menggurui. Kira-kira begitulah yang menurut saya banyak sekali hikmah hari spesial itu. Sayapun menyemangati mereka, termasuk diri sendiri. Semuanya pasti berlalu karena itu tahapan hidup.

Salam semangat.

Ute

Advertisements

“Amit-Amit”?

Sekarang Kereta Api Kamandaka di Stasiun  Pemalang berhenti sejenak, majalah Ontrack menemani saya sejak dari stasiun Bumiayu. Saya baca dengan lahap tiap cerita yang ada dimajalah edisi kedua 2018 ini. Alasan kuatnya sih supaya tidak tidur saja dikereta.

Ada yang menarik perhatian saya saat membuka halaman 55. Yaitu tentang cerita asal usul ucapan “Amit-amit”. Menariknya bukan hanya saat “amit-amit” diucapkan, tapi kebiasaan masyarakat Indonesia secara reflek akan sambil mengetuk  meja atau benda yang ada disebelahnya. Saya geli sendiri mengingat saya juga kerap mengketuk-ketuk sesuatu,seringnya meja, saat mengucap “amit-amit”. Alasannya? ya seperti sejak dahulu, dengan mengetuk itu terasa bertujuan mengkonfirmasi untuk tidak melakukan hal yang sama, atau sesuatu yang buruk atau tidak baik agar tidak menimpa kita. Dan bisa jadi, supaya dijauhkan dari cerita buruk yang sedang diutarakan.

Ditulis oleh Miranda Rachellina, ternyata ada loh asal muasalnya ucapan “amit-amit”. Pada dasarnya siapa yang mulai tradisi tersebut tidak diketahui pasti. Hanya saja, dulu tradisi Jerman,kebiasaan mengetuk atau menyentuh sesuatu misal kayu atau pohon, berdasarkan atas suatu kepercayaan mereka terhadap roh. Namanya kepercayaan Pagan,atau percaya adanya kekuatan supranatural. Ketukan kesatu dan keduapun maknanya beda. Saya lupa apa saja maknanya.

Dinegara lainpun, seperti yang ditulis Miranda Rachellina, ada kebiasaan mengetuk atau menyentuh sesuatu dengan tujuan terhindar dari sesuatu,seperti di Inggris, Arab, dan Malaysia, dengan ucapan berbeda yang dilanjutkan dengan mengetuk benda yang ada. Tulisan Miranda yg saya ingat, di Inggris dikenal dengan Knock on Wood. Tujuannya sama yaitu agar terhindar dari kesialan saja,atau hal yang tidak baik.

Lalu di Indonesia bagaimana?  Jika memperhatikan kebiasaan disekitar saya, sepertinya itu hanya gerakan reflek saja.Tidak ada unsur bahwa benda yang diketuk atau disentuh mempunyai roh atau unsur supranatural. Apalagi jika dihitung berapa kali kita mengetuk. Mungkin tidak terhitung tiap ucapan “amit-amit” terlontar. Bahkan ada yang mengetuk kaca jika sebelahnya kaca, malah sengaja mengetuk agar berirama (?). Ya itu, kebanyakan untuk menghindari kesialan. Apakah manjur? Entah, saya tidak pernah mengevaluasi juga. 😃

Salam,
Ute

Alasan Menulis

Di Bab 3 buku Quantum Writing terkait menulis sebagai saudara kembar membaca, Hernowo menyuguhkan beberapa kisah yang dia kutip dari beberapa penulis terkenal, misalnya saja Stephen King dan J.K Rowling . Yang saya ingat salah satu  nasehat Stephen King adalah “menulislah dengan alasan apapun, asal bukan untuk meremehkan”. Saya membaca pernyataan ini berulang-ulang. Karena disitu tidak diberikan contoh, jadi saya jujur saja sulit mencerna. Apakah yang dimaksud Stephen King “meremehkan” adalah seperti yang dilakukan banyak Ghost Writer di Indonesia terkait alasannya karena mendapat bayaran untuk memprovokasi partai tertentu? Saling menghujat? Tapi bukankah kita tahu itu meremehkan dari hasi menelisnya, bukan alasannya? Alasannya bukankah akrena mendapatkan bayaran lalu dia menulis? kenapa Stephen King tidak fokus kepada “asal bukan untuk tujuan meremehkan?”. Apakah “alasan” dengan “tujuan” akan menghasilkan tulisan yang berbeda? ah, jujur saja saya butuh pencerahan terkait ini.

Lalu, yang saya ingat lagi adalah apa yang dinyatakan oleh JK Rowling yang salah satu intinya adalah dia menulis setiap hari, kapan saja, dan dimana saja. Ah jikalau kita bisa- paling tidak menulis setiap harinya- tiru kebiasaannya Rowling, mungkin menulis akan menjadi kebutuhan, kegiatan bersenang-senang, bukan lagi beban, apalagi menjadi suatu kesulitan dan trauma. Bisa jadi, menulis bisa menjadi hal yang bisa untuk bersenang-senang. Saya bisa membayangkan, bagaimana gembiranya kita semua jika menulis bisa seperti halnya bangun pagi-pagi dan menghirup udara pagi, dan berenang di kolam renang jernih tanpa kaporit, atau setiap sore bisa berlatih zumba dengan lagu-lagu devil track dan terupdate dari instruktur favorit. Atau gembira menulis bisa segembira para pekerja kantoran yang mendapatkan THR sebelum lebaran tiba. Hanya dengan membayangkannya saja saya sudah bergembira, senyum saya- meskipun ketupat lebaran belum bisa dimakan saat ini- melebar. Kecepatan mengetik saya rasa semakin membaik dan jari-jaripun menari lebih lincah dan bersemangat seperti sudah berkawan baik dengan otak dan tuts keyboard laptop.

Oh ya, saya masih belum tenang terkait “alasan menulis” yang tidak diperbolehkan yaitu alasan karena meremehkan orang lain. Dan lagi, saya sulit mencerna ini. Kenapa? alasan untuk meremehkan orang lain masih sangat absurd, maksudnya bisa jadi bagi kita, hal tertentu termasuk meremehkan orang lain, dan belum tentu bagi orang lain. Bukankah jika menulis, output nya adalah tulisan? Artinya, yang penting adalah hasil tulisan tidak untuk meremehkan orang lain? Atau apakah maksud Stephen King adalah bahwa untuk menghasilkan tulisan yang tidak meremehkan orang lain berarti bahwa sejak dalam fikiranpun, kita tidak boleh meremehkan orang lain, karena hasil tulisan pun akan terlihat jelas bahwa si penulis mempunyai niat untuk meremehkan orang lain. Entahlah.

Gunung, Kursi, Langit.

Dulu, ketika saya memilih Universitas Negeri Semarang menjadi salah satu universitas pilihan saat UMPTN (sekarang SBMPTN), saya tidak tahu persisnya kenapa saya mengisi UNNES. Saya jarang mencari tahu hal detail pada saat itu. Yang saya tahu hanya UNNES adalah salah satu universitas negeri terbaik di Semarang untuk belajar karena letaknya yang jauh dari pusat kota, banyak pohon, dan yang jelas dikelilingi banyak bukit. Dulu, dari apa yang saya dengar, dari UNNES kita bisa melihat gunung ungaran. Well, yang saya bayangkan, UNNES adalah tempat untuk belajar yang sejuk, dan jauh dari hiruk pikuk orang apalagi kemaceta. Kampus yang tenang, tentram, dan menyenangkan, serta membahagiakan.  Sudah lebay belum?

Sampailah saya bersama Bapak waktu itu tahun 2001, di kampus ini. Dan pertama kalinya saya menginjakkann kaki di daerah Banaran Sekaran. Saya sedikit terkejut sepanjang perjalanan didalam bus Nasima. Sebelum naik Nasima, aaya dan Bapak turun di Ungaran dengan banyak bertanya ke beberapa orang yang berlalu lalang. Bus yang disarankan adalah bus berukuran sedang, mengeluarkan asap hitam mengepul dengan ganas, berbunyi lantang, dan kecepatan sopir laksana mantan pembalap kelas kakap. Sudahlah, tidak ada pilihan lain juga. Yang pasti, kami berdua sangat bersemangat. Saya bersemangat dengan pertama kalinya ke kampus impian saya. Dan Bapak, pertama kalinya mengantarkan anak perempuannya yang tidak lama lagi akan menjadi mahasiswa di universitas negeri pilihan banyak orang. Bagi Bapak saya, itu sebuah kebanggaan sendiri bagi beliau dan Mama saya.

Jantung saya deg-deg an luar biasa. Mata saya tidak pernah terlepas dari pemandangan luar bus yang menurut saya cukup sepi waktu itu. Banyak pohon. Dan, dengan senyum lebar dan juga menahan letih, sampailah saya dan Bapak didepan masjin Ulum Albab, yang menjadi tempat kami berdua beristirahat sejenak. Banyak sekali kerumuman orang disitu dan disekitarnya. Dikarenakan hari itu adalah hari daftar ulang untuk semua mahasiswa baru.

Bapak saya dengan sabar menunggu semua keperluan administrasi saya. Terimakasih Bapak. Dulu, sistem daftar ulang tidak secanggih sekarang yang sudah bisa dilakukan dengan sistem online. Dulu, masih manual. Dan kami harus mengantri, dan tidak ada kursi untuk duduk. Semua calon mahasiswa menulis diatas teras. Namun, pemandangan yang paling saya ingat adalah semua melakukan itu dengan riang gembira. Kami berdesak-desakan, mendengarkan berbagai ragam bahasa daerah lengkap dari segala penjuru Jawa Tengah, dan sesekali mencoba memberanikan diri mengobrol dengan orang-orang baru. Kesenanganpun semakin bertambah tatkala kami dengan tidak sengaja bersapa dengan teman baru dari sesama fakultas, lebih-lebih sesama jurusan.

Dalam beberapa jam, daftar ulangpun selesai. Bapak saya menunggu disalah satu kedai makan yang menyajikan indomie rebus dan goreng lengkap dengan telor dan sayuran. Menurut si empunya kedai, salah satu menu andalanya  adalah bubur kacang hijau lezat yang tidak ada tandingannya. Saya menemui Bapak dan kami berdua mencari tempat kos hanya dengan bertanya-tanya dilingkungan sekitar. Tanpa membutuhkan waktu lama, saya menemukan kos kosan yang cocok. Namanya Kinanthi 3. Ya, kinanthi terletak di Banaran, dan konon, sang pemilik kos mempunyai banyak kos dengan nama kinanthi, hingga kinanti 7 atau berapa saya lupa tepatnya. Jadi, pak Kos saya adalah salah satu pewaris kos kinanthi dan sungguh kaya raya.

Mengingat awal-awal saya kuliah itu, yang penuh dengan perjuangan, saya merasakan sekali pertolongan Allah SWT, Tuhan semesta alam. Allah menghadirkan apapun kebutuhan saya saat itu dengan berbagai caraNya. Terimakasih ya Allah. Langitpun mulai gelap. Saya dan Bapak segera mencari bus pulang ke arah Purwokerto, yang kemudian dilanjutkan ke Bumiayu, kota dimana saya berasal. Salah satu perjalanan saya dengan Bapak yang tidak akan pernah saya lupakan dengan penuh suka cita apapun keadaannya.

Note: tulisan ini merupakan tantangan penulis Free Writing- Hernowo Hasim, kepada para pembacanya. Dalam bukunya kami diminta untuk Merangkai Pikiran dengan cara merangkai tiga kata yang sama sekali tidak berhubungan satu sama lain. Yaitu Gunung, Kursi, langit. Maka, jadilah tulisan ini yang lagi dan lagi, ala kadarnya 🙂

 

 

I am not alone

Salah satu pengalaman saya yang tidak terlupakan membaca buku berjudul Free Writing oleh Hernowo Hasim adalah, menurut saya, Penulis sangat tulus dan jujur dalam menceritakan pengalamannya saat mempraktekkan free writing. Saya sangat menghargai itu. Ada kesan mendalam dan saya sangat bahagia saat membacanya. Yaitu saat beliau menunjukkan para pembaca beberapa hasil free writing nya. Mulai dari contoh free writing di minggu pertama hingga minggu keempat. Dan dicontohkan pula beberapa free writing lainnya.

Ada beberapa yang saya ingat. Misalnya, saat pak Hernowo ingin menceritakan tentang rencana belajar menulis onlinenya. Dalam beberapa kalimat awal, Hernowo ingin menceritakan rencana bisnis online nya. Tapi, apa kalian tahu, Hernowo menceritakan hal yang lain. Kalau tidak salah tentang pengalamannya menyelesaikan bahan untuk kelas menulis suatu kelompok. Saya tersenyum lebar. Dan saya sendiri.

Saya tersenyum sendiri saat membaca Free Writing itu. Kenapa? karena saya mengalami hal yang sama. Beberapa hari yang lalu, sayang bermaksud ingin menceritakan beberapa hal yang saya alami dimalam sebelumnya. Namun, alhasil, saya menceritakan hal lain yang sebetulnya tidak ada hal khusus yang perlu diceritakan. Yang pada akhirnya, saya memberi judul tulisan free writing itu dengan “Me Time versi hari ini” dan saya unggah di blog saya. Saya merasa I am not alone.

Ada lagi, free writing yang dibuat oleh pak Hernowo yang sangat menggelitik. Yaitu ketika salah satu peserta didiknya menuliskan pengalaman free writing nya yang sudah menuju ke titik bosan. Bosan karena menulis terus. Akhirnya, rasa bosan ini membawa peserta didik Hernowo mempunyai ide untuk berkompetisi menulis dengan anaknya. Kisah ini diceritakan kembali oleh pak Hernowo. Ah, manis sekali kisah peserta menulis tersebut Pak Hernowo tulis dalam Free Writingnya. Dan saya tidak akan tahu kalau ada kisah seperti ini jika pak Hernowo tidak menuliskan ulang di buku beliau sebagai salah satu contoh hasil free writing.

Pak Hernowo, terimakasih sekali sudah menuliskannya untuk kami. Semoga itu menjadi barokah yang mengalir tiada henti karena sudah memberikan api semangat untuk kami dan buku Bapak sudah menemani kami saat belajar. Menurut saya, pelajaran berharga dari pengalaman free writing yang ditulis pak Hernowo adalah mulailah menulis dari hati. Jujur dalam menulis dalam free writing itu diperlukan untuk membantu membuka sumbatan dalam proses mengolah fikiran, dan memberdayakan otak kanan, yang pada akhirnya praktik menulis bisa dilakukan tanpa beban. Ya itu, Pak Hernowo menyebutnya membuang isi fikiran dengan memproduksi tulisan.

Semarang, 4 Juni 2018.

 

Sahabat, Surabaya, dan Cerita (2)

Didepan balai kota, puluhan anak kecil berteriak bahagia ketika air keluar dari lubang-lubang kecil diatas jalan taman. Dengan berpakaian ala kadarnya khas anak kecil yang mau mandi, hanya bercelana dan berkaos dalam, yg kebanyakan, berwarna putih, selain berteriak, mereka berlomba-lomba memegang air yang naik keatas. Air yg lebih tinggi dari mereka seolah memberikan sensasi tertentu. Semakin banyak titik yang mengeluarkan air, semakin asyik suara teriakan mereka sambil beradu tawa. Mereka punya dunia sendiri.

Air mancur ini seperti magnet mampu mengumpulkan anak-anak yg terurai dari segala arah. Tiap beberapa menit, air yang menjulang keatas itu, lagi dan lagi,  membuat mereka terkumpul kembali, menampung tawa dan teriakan menjadi satu. Semua matapun tertuju ke mereka. Disekitarnya, ada sorotan mata yang terbawa bahagia karena tawa yang renyah.  Ada yang, sepertinya, terganggu dengan gabungan suara teriakan apa adanya mereka. Tapi, ada juga, jiwa-jiwa yang seolah tidak terpengaruh dengan paduan suara tawa lepas anak-anak itu. Jiwa-jiwa itu hanya lewat saja, tanpa ekspresi, tanpa menoleh, dan, sepertinya, tanpa terganggu, atau sebenarnya tidak peduli. Entahlah. Orang lain disekitar mereka juga punya dunianya sendiri.

Kemudian, disebelah sayap kiri taman yang berjubel orang dimalam minggu ini, terlihat seorang bapak berkacamata berambut lurus sedikit panjang, sedang jongkok dan menghisap rokok. Dalam beberapa menit, datanglah dua anak kecil berlari kearahnya dengan riang, dan meminta bermain. Dua-duanya memeluk laki-laki ini, dan mengajak (tepatnya memaksa) bermain. Dan kami yakin, itu pasti anak-anaknya. Sedangkan sang ibu mencari tempat duduk lesehan yang menurutnya nyaman. Komplitlah mereka sekarang, dua orang tua muda dengan dua anak kecil-kecil, dan lucu-lucu sekaligus pemaksa dan perajuk. keluarga yang bahagia, dan menyenangkan untuk dilihat. Lagi, keluarga kecil tersebut mempunyai dunia mereka sendiri.

Dan kami, akhirnya menemukan tempat duduk yang sebetulnya bukan tempat duduk. Berteman obrolan seru standar kami berdua, es kepal milo macha bertoping keju dan kacang menjadi kawan setia sekaligus musuh berat badan kami. Jika kami ingat program penurunan berat badan, penyesalan singkatpun tak jarang muncul dalam pembicaraan. Namun seringnya, tiap suap macha warna hijau green tea lezat itupun mampu mengubur jauh-jauh program diet. “Tidak setiap hari ini lah” itu kalimat pamungkas bagi kami. Paling tidak, membuat kami lega untuk sementara. Tak ketinggalan, kamipun punya dunia indah kami sendiri.

Disisi lain, seorang Bapak tua berompi oranye bertuliskan juru parkir memastikan bahwa motor-motr aman. Pria berumur 60an bertopi tersebut menghampiri kami dan memastikan receh parkir sudah diberikan karena si juru parkir sudah saatnya pulang.

Seiring berjalannya malam, dan lalu lalang orang, kamipun beranjak pergi menuju Jl.Mojo dirumah kami tinggal. Kami puas dengan apa yang dilakukan hari ini. Menghabiskan waktu dengan perasaan senang, menikmati tiap langkah dalam perjalanan, bahkan dengan penuh rasa syukur, kerena tanpa kami berharap, takjil dari masjid cukup mengenyangkan perut sementara. Kami juga bersyukur, ikan kakap merah dan bubara melengkapi makan malam asyik kami. Ditutup dengan es kepal milo mocha toping keju dan kacang, semakin menambah keseruan hari ini. Tiap orang punya dunianya sendiri bukan? tak perlu pengakuan, masing-masing hanya menikmati perannya saja; anak-anak, orang lain selain anak-anak, keluarga kecil yang kami lihat, dan kami sendiri, yang kekenyangan ditutup dengan lebih dari 1000 kalori masuk ke perut.

Surabaya, 2 Juni 2018
Ute

Puasa Juga Bisa “Ngemil”

Puasa artinya kita tidak makan, tidak minum sejak sebelum Adzan Shubuh, hingga terbenamnya matahari. Tapi dalam puasa, kita juga sebetulnya bisa “ngemil”. Eits, bukan ngemil makanan kesukaan seperti ngemil kacang goreng, ngemil apel, atau ngemil bubur kacang hijau (opo tooo…). Ngemil yang saya maksud disini adalah ngemil membaca. Istilah Ngemil Membaca pertama kali saya dapat dari bukunya Hernomo Hasyim yang berjudul “Free Writing”. Ngemil membaca adalah membaca sedikit, sekitar 700 an kata atau dua halaman saja. Lalu, kita, setelah membaca, disarankan untuk menuliskan apa yang sudah kita baca. Menuliskan pengetahuan baru yang kita baru saja dapat dari bacaan dua halaman tersebut sesuai dengan yang kita pahami.

Ngemil Membaca dilakukan untuk melatih kegiatan fisik dan non fisik menulis. Kegiatan fisik menulis artinya kegiatan yang melibatkan tangan dan jari-jari kita mudah untuk menuliskan apa yang ada fikiran. Otot-otot jari tangan tidak enggan untuk mengetik atau menulis melalui laptop, gawai, maupun kertas. Sedangkan kegiatan non fisik menulis sendiri melibatkan penyaluran ide, proses mengolah kata dan kalimat, dan proses mencurahkan apa yang ada difikiran melalui tulisan. Kegiatan ini diyakini dapat membuat seseorang senang menulis, tidak tersendat-sendat mengeluarkan ide karena menulis apa yang baru saja dia baca atau tahu, dan membuat kegiatan fisik menulis yang melibatkan tangan bisa lebih lancar tanpa hambatan. Mental penulis pun akan terasah sehingga menulis tidak menjadi beban atau trauma. Ngemil membaca membantu penulis untuk berlatih merangkai kata dan kalimat, mengungkapkan makna yang didapat dari bacaan dua halaman tersebut. Hernowo Hasyim menyebut kegiatan ini adalah Mengikat Makna. Isi tulisanpun, akan lebih bergizi karena sejak proses membaca, banyak kosa kata yang masuk ke otak dan informasi segar yang dapat dituliskan.

Dengan melakukan kegiatan membaca ngemil, dan menuliskannya secara teratur, penulis pada akhirnya secara sadar ataupun tidak sadar dapat merangkum intisari bacaan dengan kalimat pilihan sendiri, dan kita pun akan senang jika dapat mengungkapkan apa yang ada di fikiran dengan rangkaian kata dan kalimat yang kita pahami. Sehingga, jika dilakukan secara rutin, karena tidak menjadi beban, penulis akan suka membaca pelan (atau deep reading) untuk mendapatkan makna. Selain menjadikannya suka membaca, kegiatan menulispun bisa menjadi asyik karena dilakukan tanpa beban. Kenapa? karena kita tahu apa yang kita tulis disebabkan sudah memaknai apa yang sudah dibaca melalui deep reading tersebut. Sedangkan dalam proses menulis, kita akan menikmati dalam mencurahkan setiap pilihan kata dan kalimat sebagai hasil pemahaman dari teks yang kita baca. It makes sense, bukan?

Sahabat, Surabaya, dan cerita

Kereta menuju stasiun Pasar Turi Surabaya mulai melaju dari stasiun Poncol tepat pukul 11.40 sesuai jadwal. Gerbong 2, nomor kursi 10E, menjadi pilihan saya saat booking di KAI Access. Tepat didepan saya, duduk seorang perempuan setengah baya, berambut sebahu berwana pirang. Dalam hitungan menit setelah kereta melaju, dia langsung tertidur dgn mulut tertutupi masker. Disebelahnya, seorang ibu jilbaber ramah memakai kerudung berwarna oranye yang sepadan dengan baju gamisnyapun demikian. Tertidur pulas lengkap dengan memakai kacamata hitam warna frame mengkilat keemasan. Ibu beraksesoris gelang warna putih dan lipstik warna pink cukup mencolok diadu dengan tas berwana coklat tua bercorak kulit buaya itu tertidur dgn bersandarkan tangan. Posisi tangan dan kepala hampir tidak pernah berubah. Sepertinya pulas sekali.

Disebelah saya, seorang bapak setengah bayapun demikian. Hanya saja mata tertutup kira-kira setelah 1 jam kereta mulai melaju. Searah jarum jam angka 1, dua laki-laki mudapun tertidur pulas. Salah satu dari dua orang tersebut awalnya cukup kesulitan menempatkan tas besar mereka. Tas yg biasanya dipakai khusus utk para backpacker. Ah,mungkin mereka menujur Bromo, atau kawah Ijen. Entahlah.

Sesekali saya melirik kearah luar kiri jendela kereta. Sempat saya terhentak melihat byk sampah dibeberapa pojokan sungai. Ah, banyak sekali,terutama sampah2 plastik yg beterbangan. Sedih melihatnya. Kesan jorok, kumuh, dan tdk sehatlah yang ada. Jadi ingat foto profil sahabat saya, Hastin. Foto tsb isinya terkait anjuran mengurangi penggunaan sedotan. krn sedotan yg asalnya dari plastik, akan sulit teruai, hingga ratusan tahun. Sepertinya, kita semua perlu mewaspadi itu krn plastik yg tak teruari akan berdampak negatif bagi lingkungan.

Bersambung…

Ngrombo, 1 Juni 2018
Ute

Me Time versi Hari Ini (malas bukan?)

Pagi hari ini saya berusaha mengingat kembali aktifitas yang harus saya lakukan. Beberapa diantaranya adalah melanjutkan membaca buku berjudul Free Writing, mencuci baju, membersihkan rumah, memasak, membeli box plastik untuk menampung buku-buku saya yang berserakan dan masih tidak tertata, dan sholat tarawih di Masjid Al Muhajirin.

Mulai bangun pagipun, saya langsung membaca beberapa halaman buku Free Writing. Sangat menyenangkan dan seolah membuat bugar badan saya. Sebelum selesai membaca buku, perhatian saya beralih kebeberapa baju yang sudah siap disetrika. Baju-baju yang sudah menumpuk berhari-hari itu seolah berteriak keras untuk segera di setrika. Tapi, apalah daya, rasa malas menghampiri saya. Pekerjaan menyetrika adalah salah satu pekerjaan rumah yang kurang saya sukai.

Mulailah saya melihat meja setrikaan yang sudah siap menampung hangat dan panasnya listrik penghalus dan perapi baju, tapi, lagi dan lagi, malas tingkat kelurahanpun menghampiri saya. Tak lama kemudian, bukannya saya menyetrika, perhatian saya tertuju ke kulkas dipojok ruangan. Saya ingat, semalam sebelumnya saya sudah membeli beberapa bahan untuk dimasak di hari libur Waisak 2018 ini. Saya tersenyum ringan karena bekal untuk buka nanti sore sudah ada dan lengkap. Ada sayur, buah, dan makanan asupan protein yaitu peda. Artinya, saya tidak perlu keluar mencari (bahan) makanan. Dalam hitungan detik, semakin menjauhlah saya dari meja setrika. Mungkin baju-baju tadi jika bisa bicara, mereka akan bilang saya itu plin plan, atau memberikan janji palsu. hehe.

Tak lama kemudian, saya melihat baju olah raga saya dengan miris terbiarkan begitu saja terendam sejak tadi malam dan lupa untuk dicuci. Ya Tuhan, begitu teganya saya membiarkan baju-baju setia peneman berkeringat saya terdampar begitu saja belum dibersihkan. Dan saya yakin seyakin-yakinnya, mencuci baju tersebutlah yang harus diprioritaskan.

Namun, ada yang mengusik saya lagi. Saya mulai berfikir bahwa, mungkin saja, untuk menyegarkan tubuh, mandi juga hendaknya menjadi prioritas, sehingga, saat badan segar dan harum, aktifitas lain akan berjalan dengan lancar. Akhirnya, tertujulah saya ke handuk yang saya gantungkan disalah satu sudut rumah. Hampir saja saya mendekati kamar mandi,  saya merasa rumah terlalu sunyi, dan saya yakin, menyalakan radio harus saya lakukan sebelum mandi. Radio Pramborslah menjadi channel yang saya pilih. Lagu-lagu favorit saya pun terputar tanpa saya minta. Beberapa iklan yang diputarpun saya hapal diluar kepala, bahkan banyak percakapan lucu antara Gina dan Desta, si penyiar kece, yang diulang-ulang. Sambil mendengarkan radio, saya pun mampir ke kasur empuk kesukaan saya dengan sesekali membalas Whatsapp teman-teman saya sambil mengunjungi situs berita di HP saya.

Dan, tiba-tiba, saya terhentak, suara Adzan Dhuhur sudah berkumandang, segera kuperhatikan jam tangan, dan ternyata, pagi sudah berganti siang. Sayapun belum melakukan beberapa hal yang saya rencanakan. Tetapi saya tidak menganggap saya gagal hari ini, saya anggap, itulah “me Time” versi saya paling tidak untuk hari ini sebelum waktu Dhuhur. Saya bisa melakukan apapun dan memprioritaskan apapun yang saya mau. Dengan melihat ke kaca, saya geleng-geleng dan berkata “it’s not right, but it’s oke”. Kegiatan yang saya rencanakanpun baru saya lakukan setelah siang menjelang sore.

Pernah mengalami hal seperti itu?  😀

Dan apa pelajaran yang bisa dipetik? Komen ya 🙂

 

 

Free Writing Pertama (?): Tanpa Judul

Pernahkah kalian tiba-tiba bahagia karena sudah menyelesaikan rutinitas yang kalian tunggu-tunggu? Rutinitas itu sendiri sebetulnya jika difikir-fikir, mungkin, dan biasanya, akan sangat menjemukan karena kita sudah tahu apa yang pada akhirnya akan terselesaikan atau proses apa yang harus dan (pasti) kita selesaikan.

Hari ini, hari ke 12 berpuasa di bulan romadhon. Saya sendiri baru mengikuti puasa ke 5 karena halangan menstruasi. Sesuai dengan jadwal yang saya rencanakan, di bulan romadhon, saya bertekad akan mulai berolahraga rutin kembali di sanggar senam Athalia, di Pandanaran. Rutin artinya, saya harus membayar sebagai anggota sanggar selama 1 bulan  penuh sebesar Rp.140.000,- meskipun jika dihitung-hitung, saya hanya bisa mengikuti kelas olahraga sebanyak 14 kali karena banyak hari libur dan saya akan sudah mudik menjelang lebaran dimana sanggar masih membuka kelas senam.

Rencana tersebut saya sangat yakin-InshaAlloh- bisa dijalankan. Kenapa? karena jadwal mengajar di bulan Romadon tidak ada yang berakhir pukul 16.00 WIB, artinya saya mempunyai waktu yang cukup untuk pergi ke sanggar senam tersebut dimana kelas dibuka pukul 17.00 WIB. Waktu tempuh sanggar olahraga favorit saya ini dari kampus tempat saya bekerja sekitar 30-40 menit. Lumayan jauh bukan? tidak hanya lumayan, tapi memang jauh. Tapi apa kalian tahu, saya sangat bergembira untuk datang ke kelas senam tersebut. Entah kelas aero,  zumba, maupun pilates dan juga kelas Yoga. Saya dengan gembira, tanpa beban, datang ke sanggar tersebut. Kira-kira segembira anak kecil yang dikasih permen manis atau coklat. Mungkin kalian akan bertanya-tanya, apa tidak ada sanggar senam yang lebih dekat yang sering saya ikuti? jawabannya adalah, ada. Bahkan banyak.

Apa kalian tahu, didekat rumah yang saya tempati, sanggar senam hanya berjarak ratusan meter saja, sekitar 5 menit saja dari rumah. Apa saya pernah ikut kelas disitu? sering juga. Bahkan saya punya beberapa kupon senam yang jika sudah 10 kali dikumpulkan saya bisa dapat gratis kelas-kelas senam tertentu. Asyik bukan?

Entah kenapa, kadang, kita tidak bisa menemukan jawaban untuk pertanyaan “kenapa” dengan akal sehat kita. Bergabung disanggar yang dekat dengan rumah sebetulnya bagus-bagus saja. Tetapi, sanggar Athalia, bagi saya, sanggar yang tidak (paling tidak belum) bisa tergantikan. Dari studio senamnya, fasilitas bagi anggota dan non anggota, profesionalitas ketepatan waktu para instruktur, dan banyak hal lainnya. Apalagi, instruktur senam terbaik favorit saya banyak disitu.

Aduhai, kadang, rasa senang, gembira, itu tidak bisa dilogika. Dia hanya bisa dirasa dan rasa itu dimiliki oleh orang tersebut pada dunianya sendiri. Dan, itu juga tidak ada salahnya. Rasa gembira inilah mahal harganya yang mungkin tidak bisa tergantikan dengan, dalam kasus ini, jarak tempuh ke sanggar senam yang lebih dekat, atau dibayar dengan mendapatkan kupon gratis setiap kedatangan ke kelas senam yang saya dapatkan di sanggar lain.

Dan hari ini, saya gembira sekali, bisa datang ke sanggar di pusat kota tersebut tanpa terburu-buru, bisa bertemu teman-teman baik (yang hampir semuanya teman lama), bisa tertawa lepas, bisa saling tukar jajan untuk membatalkan puasa, dan dapat bersama teman saya, Mbak Nita, pergi ke Wiswa Perdamaian untuk menunaikan sholat Isya dan Tarawih. Saya fikir, selain hari ini saya menyelesaikan tugas kantor dengan baik, saya juga sudah berhasil melewati hari ini dengan, bisa dikata, sempurna, yang ditutup dengan membeli buah segar di Super Indo ditengah perjalanan pulang. Kesempurnaan (menurut standar saya) hari ini juga ditambah dengan rasa manisnya membaca buku Free Writing karya Alm. Hernowo Hasim yang saya pinjam dari guru dan penyemangat menulis saya, pak Agung Kuswantoro. Ditambah lagi, berhasil menyelesaikan tulisan ringan ini sebagai latihan dalam beberapa menit 😀

Terimakasih Tuhan semesta Alam 🙂